Hilangnya Perspektif Ekologi Konservasi dalam Masyarakat

0
81

Oleh: Mahadiansar
Mahasiswa | Jurnalistik lingkungan Mahapala UMRAH

Manusia sebagai mahkluk hidup merupakan salah satu komponen yang terpenting dalam proses saling pengaruh mempengaruhi antar manusia dan antara manusia denganlingkungan. Agar mudah di pahami, maka untuk selanjutnya lingkungan ini dapat dibagi dalam tiga kelompok dasar yang sangat menonjol, yakni lingkungan fisik (physical environment) Lingkungan biologi (biological environment) dan lingkungan sosial (social environment). Administrasi negara adalah seluruh proses baik yang dilakukan oleh organisasi-organisasi maupun perorangan (yang bertindak dalam kedudukannya sebagai pejabat) yang berkaitan dengan penerapan atau pelaksanaan hukum dan peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh badan-badan legislatif, eksekutif serta yudikatif. Dalam perspektif kontemporer, administrasi negara didefinisikan sebagai proses kepemerintahan yang melibatkan sektor publik, sektor bisnis, dan masyarakat sipil dalam menyelesaikan masalah-masalah publik. Pendekatan ekologi merupakan pendekatan yang mengasumsikan bahwa faktor lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam proses kepemerintahan.

Studi kasus berbicara amdal di dalam ilmu ekologi bertujuan untuk mempersulit atau menghambat dalam perizinan yang mengarah ke perusakkan lingkungan, disini ada beberapa keraguan kesalahan instansi melihat cara kerja amdal dan filosofinya terbalik yang terjadi saat sekarang ini. sebuah faktor lingkungan dalam ekonomi, izin untuk memudahkan eksplorasi tapi didalam ekologi untuk menghalangi karena izin itu mengarah untuk konservasi. Ini perfektif yang tidak terlihat dalam arah konservasi di publik dalam hak lingkungan khusunya dalam reboisasi di tanjungpinang. Ini kekacauan yang tidak terlihat persfektif ekologinya.

Wawasan dan cara berfikir terhadap logika ekologi yang hilang oleh aktor pemerintahan yang tidak melibatkan masyarakat akibat suatu keresahan yang disembunyikan. Logika ekologi bisa di contohkan seperti mereboisasi untuk sebatang pohon akibatnya adalah berpengaruh secara visual kemudian berpengaruh juga terhadap metamorposis lingkungan akhirnya impact nya sebuah gejala kecil yang bermanfaat. Hal ini menjadi hal yang kecil hilang secara akal sehat dalam kehidupan civil society. Sepertinya tidak ada gairah dalam melihat itu. Wawasan ini bisa diartikan apakah nol atau kecil dari nol kalau di kalkulasikan secara teoritis.

Saat ini reboisasi tidak di perlihatkan tanggung jawab bersama meskipun oknum dibelakangnya bersembunyi seolah –olah ini sudah transaksional yang masif, terlalu banyak variabel seperti asumsi belaka terhadap lingkungan tak seindah sewaktu nenek moyang kita melihat, tak seindah dulu mengeluarkan inspirasi dalam berimanjinasikan diri. Masyarakat tak di edukasikan dalam pelestarian lingkungan. Pemerintah selalu berdalih dengan penyelesaian korporasinya sebagai instansi pemirintahan sebagai administrasi memperlihatkan legal dokumen yang mengarah ke teknik manipulasi. Kurangnya kreatifitas dalam mengatasi lingkungan tak muncul di permukaan wilayah kepulauan. Di daerah lain sudah melakukan global warming (talkshow, lokakarya) dan di daerah kita sendiri yang daratannya hanya 5 % hanya bermain di local warming ?. inilah menjadi krisis akibat autisme yang di ajarkan secara berkala kalangan bermasyarakat.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here